Delapan Sabda Dewa (Empat)
Posted in Wiro Sableng
SINAR sang surya yang siap tenggelam membuat air laut kemerahan. Enam gadis anak buah Ratu Duyung yang mendorong perahu berhenti berenang. Gadis yang bertindak sebagai pimpinan berkata.
“Kita mengantar sampai di sini. Di kejauhan ada sebuah pulau. Ombak akan mendorong perahu dan membawa pemuda ini ke sana. Kita harus segera kembali. Ingat pesan Ratu. Kita tidak boleh berada terlalu dekat dengan pulau-pulau yang banyak bertebaran di sekitar kawasan ini.”
Lima gadis lainnya tidak menjawab. Dalam hati sebenarnya mereka ingin mengantar perahu berisi Pendekar 212 itu sampai ke daratan, menunggu sampai dia siuman dari pingsan. Namun kelimanya tak berani membantah.
“Mudah-mudahan dia cepat sadar dan selamat. Mari kita kembali...”
“Tunggu dulu,” salah seorang dari lima gadis tiba-tiba berkata.
“Ada apa?!”
“Aku mendengar seperti ada orang menyanyi. Di kejauhan...”
Empat gadis lainnya picingkan mata dan pasang telinga. Lalu hampir berbarengan mereka mengiyakan. Gadis yang bertindak sebagai pemimpin sebenarnya juga sudah mendengar apa yang didengar lima temannya. Namun dia cepat berkata. “Suara desau angin laut dan alunan gelombang bisa saja menipu pendengaran kita. Kalaupun memang yang kalian dengar adalah suara orang menyanyi maka itu adalah satu keanehan. Siapa pula yang menyanyi di tengah lautan begini rupa? Dan ingat pelajaran dari Ratu. Dibalik setiap keanehan mungkin tersembunyi satu bahaya. Jadi, kalian tak perlu banyak bicara lagi. Ikuti aku meninggalkan tempat ini!”
Enam gadis cantik yang tubuh atas polos sedang sebatas pinggang ke bawah berbentuk ekor ikan besar itu melepaskan tangan masing-masing dari perahu lalu berbalik. Sesaat kemudian keenamnya lenyap masuk ke dalam laut.
Perahu tanpa kemudi tanpa dikayuh itu meluncur perlahan dibawa alunan ombak menuju ke tenggara dimana di kejauhan kelihatan sebuah pulau berbentuk aneh. Di sini sama sekali tidak kelihatan pepohonan. Yang tampak hanya kawasan bebatuan. Di bawah sinar matahari yang tenggelam dan udara yang mulai menggelap pulau itu kelihatan angker. Keangkeran itu bisa membuat siapa saja jadi merinding karena dari pertengahan pulau yang gelap dimana terdapat gunung dan bebukitan batu merah tiba-tiba sayup-sayup sampai terdengar suara orang menyanyi.
Laut selatan tak pernah tenang
Gelombang selalu datang menantang
Ribuan pagi ribuan petang
Tubuh lapuk ini menunggu kedatangan
Yang menunggu tua renta malang
Yang ditunggu budak malang
Apakah saat ini petunjuk Yang Kuasa turun
menjelang
Mungkinkah ini akhir penantian dan
permulaan dari satu harapan
Hanya kepada Yang Kuasa tertambat seluruh
harapan
Agar tubuh tua ini bisa bebas menempuh
jalan abadi menghadap Sang Pencipta
Orang yang menyanyi itu duduk bersila di atas salah satu puncak batu berwarna merah. Tubuhnya tampak bungkuk dimakan usia. Rambut, kumis dan janggutnya yang putih panjang melambai-lambai tertiup angin laut. Meskipun tempat itu cukup gelap namun masih bisa terlihat keanehan pada muka orang tua ini. Wajahnya sebelah kanan yaitu mulai dari pertengahan kening, hidung, mulut dan dagu berwarna biru. Di dalam mulutnya senantiasa ada segumpal sirih campur tembakau yang selalu dikunyahnya tiada henti. Bahkan ketika menyanyi tadi sirih itu masih tetap berada dalam mulutnya namun anehnya suaranya bebas lepas seolah-olah mulutnya kosong tak berisi apa-apa!
Di hadapan orang tua berjubah putih ini, di atas batu, terletak benda aneh, entah batu entah logam. Benda ini mengeluarkan sinar angker merah kebiruan seperti nyala sumber api yang sangat panas. Namun anehnya yang terpancar dari benda itu bukan hawa panas melainkan satu kesejukan. Makin lama kesejukan itu semakin menjadi-jadi malah kini hawa di tempat itu terasa sangat dingin. Si orang tua bermuka biru sebelah sampai-sampai kertakkan rahang menahan gigil kedinginan.
“Saatnya sudah tiba...” kata orang tua bermuka belang dalam hati. Seluruh kekuatan luar dalam dikumpulkannya agar tubuhnya tidak ambruk oleh hawa dingin yang menggempur dari benda bercahaya di hadapannya. Dalam keadaan sekujur tubuh menggigil orang tua ini angkat tangan kanannya. Lengan sampai ke ujung-ujung jarinya yang kurus keriput kelihatan bergetar kaku.
“Batu sakti batu pembawa petunjuk...” si orang tua berucap dengan suara bergetar. “Terbanglah tinggi, membubung ke angkasa. Melayanglah turun menukik ke bumi. Cari dan dapatkan anak manusia penerima Delapan Sabda Dewa. Di dalam dirimu ada petunjuk. Di dalam dirinya ada kekuatan untuk menangkal malapetaka. Ingat hanya ada satu kekuatan dan satu kekuasaan di delapan penjuru angin. Gusti Allah tempat semua kekuatan itu berpulang menjadi satu. Batu sakti batu pembawa petunjuk. Terbanglah tinggi membubung angkasa. Melayanglah turun menukik bumi. Cari dan dapatkan anak manusia penerima Delapan Sabda Dewa!”
Getaran tangan kanan si orang tua semakin keras. Benda di atas batu di hadapannya bersinar hebat menyilaukan. Didahului dengan teriakan dahsyat orang tua itu pukulkan tangannya ke udara.
“Byaaarrr!”
“Wussssss!”
Benda di atas batu bersinar. Tempat itu laksana diterangi sinar kilat. Lalu terjadi satu hal yang ajaib. Benda terang di atas batu melesat ke udara, mengeluarkan ekor panjang cahaya terang. Di udara benda ini berputar tujuh kali berturut-turut. Lalu dengan kecepatan yang sulit diawasi mata, seperti bintang jatuh benda bercahaya itu melayang turun ke bumi. Tapi tidak kembali ke tempat asalnya semula di atas batu di hadapan si orang tua melainkan ke satu tempat di mana terdapat sebuah batu miring, diapit oleh gugusan batu-batu karang runcing.
KITA kembali dulu pada saat tak lama setelah enam gadis cantik anak buah Ratu Duyung melepas perahu kecil di dalam mana Pendekar 212 terbaring dalam keadaan pingsan....
Perahu kecil dipermainkan ombak, meluncur perlahan ke arah pantai. pulau yang tertutup batu-batu besar berwarna merah sedang di sebelah depan pulau itu dikurung oleh deretan batu-batu karang runcing laksana memagari.
Satu gelombang besar tiba-tiba muncul di tengah laut, menghantam ke arah pulau dalam bentuk ombak yang bukan olah-olah dahsyatnya. Perahu kecil dimana murid Sinto Gendeng berada dalam keadaan pingsan mencelat ke udara sampai setinggi lima tombak, hancur berkeping-keping. Tubuh Wiro tampak berputar seperti kitiran lalu melayang jatuh melewati dua puncak runcing batu karang kemudian terhempas di atas sebuah batu miring. Keningnya membentur bagian batu yang menonjol. Terjadi satu hal yang aneh.
Pada saat tubuhnya mencelat di atas laut dan jatuh ke atas batu Wiro masih berada dalam keadaan pingsan. Tapi begitu keningnya membentur tonjolan batu yang menimbulkan luka serta kucuran darah, Pendekar 212 mendadak siuman dan sempat bangkit sambil dua tangannya bersitekan ke batu.
“Apa yang terjadi dengan diriku. Di mana aku saat ini.... “ Dia memandang berkeliling sementara telinganya mendengar suara deburan ombak tidak henti-hentinya memukul batu-batu karang yang memagari pulau batu merah itu.
“Aku mendengar suata deburan ombak. Berarti.... Eh, aku seperti mendengar suara orang menyanyi....” Murid Sinto Gendeng memutar kepalanya, berusaha memandang ke arah datangnya suara nyanyian itu. Dia coba mendengar suara nyanyian yang diulang-ulang itu. Perlahan-lahan dia memutar tubuhnya. Di kejauhan dia hanya melihat puncak-puncak bukit batu yang menghitam dalam kegelapan.
“Aku akan pergunakan ilmu pemberian Ratu Duyung. Ilmu Menembus Pandang....” Wiro segera kerahkan tenaga dalam dan atur jalan darah yang menuju ke matanya. Namun dia tidak dapat memusatkan pikiran. Keningnya terasa sakit. Tangannya bergerak meraba. Ada cairan mengalir di keningnya, turun ke pipi kiri.
Saat itu keadaan belum gelap benar. Pantulan terakhir cahaya matahari masih bisa membuat Wiro mengenali bahwa cairan merah yang ada di tangannya adalah darah. Darahnya sendiri.
“Apa yang terjadi dengan diriku.... Aku terluka,” pikir Wiro. Dia mendadak saja merasa ngeri melihat darahnya sendiri.
Pendengarannya dipasang baik baik. “Suara nyanyian itu lenyap. Aneh kalau ada orang menyanyi di tempat ini. Manusia atau jinkah yang menyanyi. Tak jelas apa kata-kata dalam nyanyiannya tadi....”` Wiro siap untuk melihat dengan ilmu Menembus Pandangnya. Tiba-tiba dia jadi tercekat. Di langit dilihatnya satu benda aneh memancarkan sinar sangat terang melayang turun ke bumi.
“Bintang jatuh…”piker Wiro. Kemudian disadarinya kalau benda bercahaya itu melayang jatuh ke arahnya.
“Astaga!” Wiro berseru kaget. Dia berusaha menggulingkan diri. Tapi benda bercahaya datangnya laksana kilat. Jatuh menghantam kepalanya tepat pada bagian luka di kening sebelah kiri lalu amblas masuk ke dalam kepalanya!
“Wusss!”
Kepala dan sekujur tubuh Pendekar 212 mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki bersinar terang benderang. Dia seperti melihat ada ratusan bintang menyilaukan di depan matanya. Saat itu juga sekujur tubuhnya terasa sedingin salju di puncak gunung hingga dia menggigil keras. Rahang menggembung geraham bergemeletakan. Wiro berusaha bertahan. Tapi sia-sia. Sedikit demi sedikit tangannya yang menahan tubuhnya terkulai lemah ke samping. Badannya jatuh terbujur di atas batu miring. Kesadarannya perlahan-lahan sirna.
Di atas batu miring tubuhnya yang sedingin es itu tidak bergerak sedikit pun. Kedua matanya terpentang lebar. Namun dia tidak melihat apa yang ada di sekitar ataupun di atasnya. Dia seperti orang tidur nyalang. Satu kejadian aneh menyelubungi Pendekar 212. Dia tenggelam ke dalam pusaran waktu dan laksana disedot masuk ke dalam alam pada masa sekitar tujuh puluh tahun yang silam. Anehnya dirinya sendiri seolah-olah berada dalam pusaran waktu itu!
“Kita mengantar sampai di sini. Di kejauhan ada sebuah pulau. Ombak akan mendorong perahu dan membawa pemuda ini ke sana. Kita harus segera kembali. Ingat pesan Ratu. Kita tidak boleh berada terlalu dekat dengan pulau-pulau yang banyak bertebaran di sekitar kawasan ini.”
Lima gadis lainnya tidak menjawab. Dalam hati sebenarnya mereka ingin mengantar perahu berisi Pendekar 212 itu sampai ke daratan, menunggu sampai dia siuman dari pingsan. Namun kelimanya tak berani membantah.
“Mudah-mudahan dia cepat sadar dan selamat. Mari kita kembali...”
“Tunggu dulu,” salah seorang dari lima gadis tiba-tiba berkata.
“Ada apa?!”
“Aku mendengar seperti ada orang menyanyi. Di kejauhan...”
Empat gadis lainnya picingkan mata dan pasang telinga. Lalu hampir berbarengan mereka mengiyakan. Gadis yang bertindak sebagai pemimpin sebenarnya juga sudah mendengar apa yang didengar lima temannya. Namun dia cepat berkata. “Suara desau angin laut dan alunan gelombang bisa saja menipu pendengaran kita. Kalaupun memang yang kalian dengar adalah suara orang menyanyi maka itu adalah satu keanehan. Siapa pula yang menyanyi di tengah lautan begini rupa? Dan ingat pelajaran dari Ratu. Dibalik setiap keanehan mungkin tersembunyi satu bahaya. Jadi, kalian tak perlu banyak bicara lagi. Ikuti aku meninggalkan tempat ini!”
Enam gadis cantik yang tubuh atas polos sedang sebatas pinggang ke bawah berbentuk ekor ikan besar itu melepaskan tangan masing-masing dari perahu lalu berbalik. Sesaat kemudian keenamnya lenyap masuk ke dalam laut.
Perahu tanpa kemudi tanpa dikayuh itu meluncur perlahan dibawa alunan ombak menuju ke tenggara dimana di kejauhan kelihatan sebuah pulau berbentuk aneh. Di sini sama sekali tidak kelihatan pepohonan. Yang tampak hanya kawasan bebatuan. Di bawah sinar matahari yang tenggelam dan udara yang mulai menggelap pulau itu kelihatan angker. Keangkeran itu bisa membuat siapa saja jadi merinding karena dari pertengahan pulau yang gelap dimana terdapat gunung dan bebukitan batu merah tiba-tiba sayup-sayup sampai terdengar suara orang menyanyi.
Laut selatan tak pernah tenang
Gelombang selalu datang menantang
Ribuan pagi ribuan petang
Tubuh lapuk ini menunggu kedatangan
Yang menunggu tua renta malang
Yang ditunggu budak malang
Apakah saat ini petunjuk Yang Kuasa turun
menjelang
Mungkinkah ini akhir penantian dan
permulaan dari satu harapan
Hanya kepada Yang Kuasa tertambat seluruh
harapan
Agar tubuh tua ini bisa bebas menempuh
jalan abadi menghadap Sang Pencipta
Orang yang menyanyi itu duduk bersila di atas salah satu puncak batu berwarna merah. Tubuhnya tampak bungkuk dimakan usia. Rambut, kumis dan janggutnya yang putih panjang melambai-lambai tertiup angin laut. Meskipun tempat itu cukup gelap namun masih bisa terlihat keanehan pada muka orang tua ini. Wajahnya sebelah kanan yaitu mulai dari pertengahan kening, hidung, mulut dan dagu berwarna biru. Di dalam mulutnya senantiasa ada segumpal sirih campur tembakau yang selalu dikunyahnya tiada henti. Bahkan ketika menyanyi tadi sirih itu masih tetap berada dalam mulutnya namun anehnya suaranya bebas lepas seolah-olah mulutnya kosong tak berisi apa-apa!
Di hadapan orang tua berjubah putih ini, di atas batu, terletak benda aneh, entah batu entah logam. Benda ini mengeluarkan sinar angker merah kebiruan seperti nyala sumber api yang sangat panas. Namun anehnya yang terpancar dari benda itu bukan hawa panas melainkan satu kesejukan. Makin lama kesejukan itu semakin menjadi-jadi malah kini hawa di tempat itu terasa sangat dingin. Si orang tua bermuka biru sebelah sampai-sampai kertakkan rahang menahan gigil kedinginan.
“Saatnya sudah tiba...” kata orang tua bermuka belang dalam hati. Seluruh kekuatan luar dalam dikumpulkannya agar tubuhnya tidak ambruk oleh hawa dingin yang menggempur dari benda bercahaya di hadapannya. Dalam keadaan sekujur tubuh menggigil orang tua ini angkat tangan kanannya. Lengan sampai ke ujung-ujung jarinya yang kurus keriput kelihatan bergetar kaku.
“Batu sakti batu pembawa petunjuk...” si orang tua berucap dengan suara bergetar. “Terbanglah tinggi, membubung ke angkasa. Melayanglah turun menukik ke bumi. Cari dan dapatkan anak manusia penerima Delapan Sabda Dewa. Di dalam dirimu ada petunjuk. Di dalam dirinya ada kekuatan untuk menangkal malapetaka. Ingat hanya ada satu kekuatan dan satu kekuasaan di delapan penjuru angin. Gusti Allah tempat semua kekuatan itu berpulang menjadi satu. Batu sakti batu pembawa petunjuk. Terbanglah tinggi membubung angkasa. Melayanglah turun menukik bumi. Cari dan dapatkan anak manusia penerima Delapan Sabda Dewa!”
Getaran tangan kanan si orang tua semakin keras. Benda di atas batu di hadapannya bersinar hebat menyilaukan. Didahului dengan teriakan dahsyat orang tua itu pukulkan tangannya ke udara.
“Byaaarrr!”
“Wussssss!”
Benda di atas batu bersinar. Tempat itu laksana diterangi sinar kilat. Lalu terjadi satu hal yang ajaib. Benda terang di atas batu melesat ke udara, mengeluarkan ekor panjang cahaya terang. Di udara benda ini berputar tujuh kali berturut-turut. Lalu dengan kecepatan yang sulit diawasi mata, seperti bintang jatuh benda bercahaya itu melayang turun ke bumi. Tapi tidak kembali ke tempat asalnya semula di atas batu di hadapan si orang tua melainkan ke satu tempat di mana terdapat sebuah batu miring, diapit oleh gugusan batu-batu karang runcing.
KITA kembali dulu pada saat tak lama setelah enam gadis cantik anak buah Ratu Duyung melepas perahu kecil di dalam mana Pendekar 212 terbaring dalam keadaan pingsan....
Perahu kecil dipermainkan ombak, meluncur perlahan ke arah pantai. pulau yang tertutup batu-batu besar berwarna merah sedang di sebelah depan pulau itu dikurung oleh deretan batu-batu karang runcing laksana memagari.
Satu gelombang besar tiba-tiba muncul di tengah laut, menghantam ke arah pulau dalam bentuk ombak yang bukan olah-olah dahsyatnya. Perahu kecil dimana murid Sinto Gendeng berada dalam keadaan pingsan mencelat ke udara sampai setinggi lima tombak, hancur berkeping-keping. Tubuh Wiro tampak berputar seperti kitiran lalu melayang jatuh melewati dua puncak runcing batu karang kemudian terhempas di atas sebuah batu miring. Keningnya membentur bagian batu yang menonjol. Terjadi satu hal yang aneh.
Pada saat tubuhnya mencelat di atas laut dan jatuh ke atas batu Wiro masih berada dalam keadaan pingsan. Tapi begitu keningnya membentur tonjolan batu yang menimbulkan luka serta kucuran darah, Pendekar 212 mendadak siuman dan sempat bangkit sambil dua tangannya bersitekan ke batu.
“Apa yang terjadi dengan diriku. Di mana aku saat ini.... “ Dia memandang berkeliling sementara telinganya mendengar suara deburan ombak tidak henti-hentinya memukul batu-batu karang yang memagari pulau batu merah itu.
“Aku mendengar suata deburan ombak. Berarti.... Eh, aku seperti mendengar suara orang menyanyi....” Murid Sinto Gendeng memutar kepalanya, berusaha memandang ke arah datangnya suara nyanyian itu. Dia coba mendengar suara nyanyian yang diulang-ulang itu. Perlahan-lahan dia memutar tubuhnya. Di kejauhan dia hanya melihat puncak-puncak bukit batu yang menghitam dalam kegelapan.
“Aku akan pergunakan ilmu pemberian Ratu Duyung. Ilmu Menembus Pandang....” Wiro segera kerahkan tenaga dalam dan atur jalan darah yang menuju ke matanya. Namun dia tidak dapat memusatkan pikiran. Keningnya terasa sakit. Tangannya bergerak meraba. Ada cairan mengalir di keningnya, turun ke pipi kiri.
Saat itu keadaan belum gelap benar. Pantulan terakhir cahaya matahari masih bisa membuat Wiro mengenali bahwa cairan merah yang ada di tangannya adalah darah. Darahnya sendiri.
“Apa yang terjadi dengan diriku.... Aku terluka,” pikir Wiro. Dia mendadak saja merasa ngeri melihat darahnya sendiri.
Pendengarannya dipasang baik baik. “Suara nyanyian itu lenyap. Aneh kalau ada orang menyanyi di tempat ini. Manusia atau jinkah yang menyanyi. Tak jelas apa kata-kata dalam nyanyiannya tadi....”` Wiro siap untuk melihat dengan ilmu Menembus Pandangnya. Tiba-tiba dia jadi tercekat. Di langit dilihatnya satu benda aneh memancarkan sinar sangat terang melayang turun ke bumi.
“Bintang jatuh…”piker Wiro. Kemudian disadarinya kalau benda bercahaya itu melayang jatuh ke arahnya.
“Astaga!” Wiro berseru kaget. Dia berusaha menggulingkan diri. Tapi benda bercahaya datangnya laksana kilat. Jatuh menghantam kepalanya tepat pada bagian luka di kening sebelah kiri lalu amblas masuk ke dalam kepalanya!
“Wusss!”
Kepala dan sekujur tubuh Pendekar 212 mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki bersinar terang benderang. Dia seperti melihat ada ratusan bintang menyilaukan di depan matanya. Saat itu juga sekujur tubuhnya terasa sedingin salju di puncak gunung hingga dia menggigil keras. Rahang menggembung geraham bergemeletakan. Wiro berusaha bertahan. Tapi sia-sia. Sedikit demi sedikit tangannya yang menahan tubuhnya terkulai lemah ke samping. Badannya jatuh terbujur di atas batu miring. Kesadarannya perlahan-lahan sirna.
Di atas batu miring tubuhnya yang sedingin es itu tidak bergerak sedikit pun. Kedua matanya terpentang lebar. Namun dia tidak melihat apa yang ada di sekitar ataupun di atasnya. Dia seperti orang tidur nyalang. Satu kejadian aneh menyelubungi Pendekar 212. Dia tenggelam ke dalam pusaran waktu dan laksana disedot masuk ke dalam alam pada masa sekitar tujuh puluh tahun yang silam. Anehnya dirinya sendiri seolah-olah berada dalam pusaran waktu itu!


0 komentar: